CEGAH ANEMIA DAN STUNTING SEJAK KEHAMILAN

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya.Β Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awalΒ kehidupan setelah lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia 2 tahun. Stunting bisa disebabkan oleh malnutrisi yang dialami ibu saat hamil atau anak pada masa pertumbuhannya. Menurut WHO (2015), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.
Selanjutnya menurut WHO (2020) stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.
Berdasarkan laporan World Bank Investing in Early Yearsbrief, 2016 , Stunting menimbulkan kerugian ekonomiΒ negara sebesar 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun. Jika PDB negara kita Rp13.000 triliun pada 2017 diperkirakan kerugian akibat stunting mencapai Rp 300 triliun per tahun
Stunting berdampak pada tingkatΒ kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit,Β menurunkan produktifitas, dampakΒ kedepannya menghambat pertumbuhanΒ ekonomi, dan meningkatkan kemiskinan serta kesenjangan. Stunting dapat dicegah , Β dengan memastikan kesehatan yang baik dan gizi yang cukup pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dengan makanan mengandung Gizi Tepat disertai Pencegahan Penyakit sehingga Tumbuh Kembang menjadi Optimal
DAMPAK STUNTING
Upaya Menurunkan Stunting
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI eksklusif
1000 HPK atau Seribu Hari Pertama Kehidupan adalahΒ fase kehidupan yang dimulai sejak terbentuknya janin pada saat kehamilan (270 hari) sampai dengan anak berusia 2 tahun (730 hari). Pada periode inilah organ-organ vital (otak, hati, jantung, ginjal, tulang, tangan atau lengan, kaki dan organ tubuh lainnya mulai terbentuk dan terus berkembang.
Seribu hari pertama kehidupan merupakan PERIODE EMAS, seorang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Gangguan yang terjadi pada periode ini, khususnya asupan gizi yang tepat,Β akan berdampak pada kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anakΒ yang bersifat permanen dan berjangka panjang serta lebih sulitΒ untuk diperbaiki setelah anak berusia 2 tahun.
Faktor Risiko Terjadinya Stunting
- Pertumbuhan Janin Terhambat
- Prematur
- Anemia
- Ibu KEK
- Ibu Pendek
Masalah Kesehatan Ibu dan Anak Berkontribusi pada Terjadinya AKI, AKB, dan Stunting
Mengapa Anemia Banyak Terjadi Pada Ibu Hamil?
- Retensi cairan, volume bertambah:
- Darah ibu mengalami hemodilusi (pengenceran) sehingga konsentrasi Hb dalam plasma berkurang
- Curah jantung meningkat
- Akibat pengaruh hormon, tahanan perifer vascular menurun
- Tekanan darah arterial menurun
- Kebutuhan zat besi meningkat 1,5x lebih tinggi
Saat hamil, ibu perlu mengkonsumsi zat besi 1,5x lebih tinggi terutama pada trimester kedua dan ketiga untuk mendukung peningkatan kebutuhan untuk tumbuh kembang janin. Puncaknya pada 32-34 Minggu.
Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan
Sebelum Lahir
Sekitar 23% anak lahir dengan kondisi sudah stunted, akibat ibu hamil sejak masa remaja kurang gizi dan anemia.
Setelah Lahir
Stunting meningkat signifikan pada usia 6 β 23 bulan, akibat kurang protein hewani pada makanan pendamping ASI (MPASI) yang mulai diberikan sejak usia 6 bulan.
Optimalisasi masa kehamilan penting untuk bantu pencegahan stunting. Telah diketahui secara luas bahwa 1000 hari pertama kehidupan merupakan periode emas dalam mengoptimalkan pertumbuhan guna mencegah stunting. Memastikan nutrisi yang adekuat sejak masa pra-konsepsi juga merupakan hal yang tidak kalah penting. Stunting merupakan kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan usia. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO.
Stunting memiliki efek jangka pendek hingga jangka panjang salah satunya peningkatan angka kematian dan kesakitan. Selain itu, stunting juga dapat berefek pada perkembangan anak yang buruk dan gangguan kapasitas belajar, peningkatan risiko infeksi serta penyakit tidak menular. Efek risiko tersebut berpengaruh pada tumbuh kembang anak di masa depan, maka dari itu penting untuk dilakukan pencegahan stunting sejak awal masa kehidupan.
Makanan tinggi kalori, protein, dan mikronutrien
Langkah pencegahan stunting yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia termasuk di dalamnya adalah memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil. Tindakan ini relatif ampuh karena Lembaga Kesehatan Millenium Challenge dalam laporan Kementerian Kesehatan menyarankan agar ibu yang sedang mengandung selalu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi maupun suplementasi. Kebutuhan nutrisi ibu akan meningkat selama masa kehamilan untuk mendukung pertumbuhan janin. Dibandingkan dengan wanita tidak hamil, kebutuhan energi wanita hamil meningkat 13% dengan kebutuhan protein 54% lebih tinggi selama masa kehamilan dan menyusui (Dewey,2016).
Ibu hamil memerlukan tambahan kalori kurang lebih 350-450 kalori per hari. Kebutuhan kalori ini perlu dipecah kedalam komponen makro dan mikro. Nutrisi makro terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak. Sedangkan nutrisi mikro terdisi dari vitamin dan mineral. Beberapa zat yang harus terpenuhi selama kehamilan yaitu protein, kalsium, asam folat dan zat besi. Ibu hamil membutuhkan asupan kalsium minimal sejumlah 1200mg, dengan asam folat 600-800 mcg/hari, zat besi 27mg/hari dann protein 70-100 gram/hari dan meningkat setiap trimesternya. Adanya peningkatan kebutuhan ini terkadang sulit dipenuhi karena kondisi fisik ibu hamil yang juga mengalami gangguan seperti mual hingga muntah.
Ante natal care (ANC) terpadu
Pemeriksaan ANC (Antenatal Care)merupakan pemeriksaan kehamilan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada ibu hamil secara optimal, hingga mampu menghadapi masa persalinan, nifas, menghadapi persiapan pemberian ASI secara eksklusif, serta kembalinya kesehatan alat reproduksi dengan wajar.
Pertumbuhan janin ini memerlukan suatu sistem yang bekerja komprehensif. Untuk bisa bekerja optimal maka diperlukan unsur yang saling bekerjasama. Prioritas utama kebutuhan ibu hamil adalah ketersediaan sumber energi (kalori). Jika energi tidak tersedia maka proses-proses selanjutnya akan menjadi terhambat. Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah status nutrisi ibu pada awal kehamilan karena hal ini sebagai dasar ketersediaan akses agar nutrisi sampai ke janin.
Prioritas lainnya adalah ketersediaan bahan nutrisi yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh (nutrisi esensial) yang hanya bisa didapatkan melalui asupan nutrisi ibu, seperti asam amino esensial, asam lemak esensial, mineral dan sebagian besar jenis vitamin. Bahan-bahan ini akan berpengaruh pada proses pembentukan jaringan, sistem dan organ janin.
Dalam kesehariannya, ibu hamil dapat melakukan model nutrisi 5J untuk kehamilan, yaitu melakukan asupan nutrisi kehamilan berupa paket pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu hamil yang meliputi (1) Jumlah kalori, (2) Jadwal makan, (3) Jenis makanan, (4) Jalur pemberian nutrisi dan (5) penJagaan terhadap pelaksanaan. Secara jumlah, ibu hamil membutuhkan minimal 35kkal/kg/hari dengan jadwalΒ makan 3 kali makan besar dan 3 kali makan kecil.
Jenis makanan yang dibutuhkan ibu hamil meliputi nutrisi makro yang dapat terdiri dari 4 jenis lauk protein perhari (protein hewani yang berbeda tiap makan ditambah protein nabati) dan nutrisi mikro dari berbagai jenis bahan makanan. Kebutuhan jenis makanan ini berbeda tiap trimesternya. Pada trimester satu, tidak diperlukan nutrisi dalam jumlah besar namun diperlukan nutrisi lengkap (beragam jenis), terutama asam lemak dan asam amino esensial.
Poin penting selanjutnya adalah jalur pengganti yaitu cara bagaimana makanan dapat masuk ke tubuh ibu hamil yang pada akhirnya disalurkan ke janin. Jalur pengganti ini digunakan untuk dua tujuan, yaitu pemeliharaan dan koreksi/terapi. Semua hal di atas dalam pelaksanaannya sering kali sulit dilakukan sehingga dibutuhkan upaya penJagaan yang disesuaikan dengan rekomendasi nutrisi kehamilan (Wibawa, 2021).
Berapa Kali ANC atau Kapan Periksa Kehamilan?
Yuk calon Ibu,Β ikuti Tips ini untuk cegah stanting :
- Pemantauan kenaikan berat badan yang baik selama kehamilan akan menghasilkan pertumbuhan janin yg optimal dan laktasi yang sukses.
- Penting untuk pencegahan anemia & stunting sejak kehamilan
- Antenatal care harus memenuhi kuantitas minimal dan kualitas yang maksimal dalam pencegahan stunting
- Persiapan kesehatan reproduksi, nutrisi & asupan multivitamin serta asam folat prakonsepsi merupakan komponen yang penting dalam mempengaruhi luaran janin
- Pemenuhan gizi ibu dapat dilakukan dengan suplementasi nutrisi dan tambahan kalori
Informasi Terkait